Saring Sebelum Sharing: Merajut Harmoni Lintas Generasi di Ruang Digital
Media sosial hari ini bukan lagi monopoli generasi muda. Mulai dari anak remaja hingga kakek-nenek kini aktif memegang gawai. Sayangnya, ruang digital yang lintas generasi ini sering kali menjadi medan baru bagi kesalahpahaman, terutama terkait penyebaran informasi keagamaan. Generasi senior mungkin kerap terjebak menyebarkan hoaks atau narasi kaku karena faktor ketidaktahuan teknologi, sementara generasi muda sering kali terlalu reaktif dan kurang sopan saat meresponsnya di kolom komentar. Di sinilah urgensi Moderasi Beragama hadir sebagai jembatan etika komunikasi lintas generasi.
#UIN_SATU #KEMENAG_RI #DIKTIS_KEMENAG_RI #MODERASI_BERAGAMAUntuk merawat harmoni ini, kita perlu menghidupkan kembali nilai Tawassuth (mengambil jalan tengah) dan Tasamuh (toleransi) di ruang digital. Menjadi tawassuth berarti semua generasi—tanpa terkecuali—harus memiliki kedewasaan untuk "saring sebelum sharing". Kita tidak boleh langsung menelan mentah-mentah atau menyebarkan konten keagamaan yang sifatnya memecah belah, menghakimi kelompok lain, atau memicu amarah.
Selain itu, nilai Syura (musyawarah/dialog) dan saling menghormati harus dikedepankan ketika terjadi perbedaan pandangan keagamaan di media sosial. Generasi muda yang lebih melek teknologi semestinya mengedukasi generasi yang lebih tua dengan cara yang santun (qudwah atau keteladanan), bukan dengan rundungan digital atau kata-kata yang merendahkan. Sebaliknya, generasi senior perlu terbuka menerima masukan.
Pada akhirnya, gawai dan media sosial yang kita pegang adalah cerminan dari kematangan beragama kita. Baik orang tua maupun anak muda, menjaga jempol untuk tetap menyebarkan narasi yang damai, sejuk, dan toleran adalah tanggung jawab bersama demi menjaga keutuhan bangsa.

0 Response to "Saring Sebelum Sharing: Merajut Harmoni Lintas Generasi di Ruang Digital"
Post a Comment